Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Rabu, 19 Mei 2010

MENGGAGAS PARADIGMA BARU PENDIDIKAN

Membicarakan pendidikan sama halnya membicarakan masa depan. Karena pendidikanlah yang membentuk generasi masa depan apakah ia siap menahkodai bahtera kehidupan dimasa yang akan datang atau tidak?! Masa depan disini tidak hanya terbatas dalam kehidupan dunia, namun jauh melampaui batas ruang, masa depan itu adalah kehidupan setelah hidup ini, yakni kehidupan akhirat. Oleh karenanya, bagaimana pendidikan yang didapat dimasa kini akan mempengaruhi keadaan seseorang dimasa yang akan datang. Disinilah diperlukan pendidikan yang dapat membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter pemimpin dan mempunyai visi futuristic-revolusioner.

Paradigma Pendidikan Sekarang: Sekuler-Materialisme

Diakui atau tidak, saat ini pendidikan yang ada tidak dapat menjamin bahwa seseorang setelah mengenyam pendidikan akan mempunyai kapabelitas yang memadai. Jika melihat disekitar kita, akan ditemui kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dengan orientasi pendidikan sekarang. Misalnya saja, kurikulum yang ada lebih menekankan pada aspek skill instan. Para peserta didik diberi asupan pengetahuan hanya untuk menjadi para pekerja. Ditambah pendidikan yang ada mengabaikan kehidupan hakikinya, yakni kehidupan akhirat. Alhasil, output yang dihasilkan kemudian mempunyai pola pikir dikotomi: memisahkan agama dalam menjalani kehidupan, inilah sekulerisme. Konsekuensi dari keadaan ini adalah rendahnya moral anak-anak sekarang. Kejahatan, narkoba, kriminalitas, bentrokan, dan tawuran menjadi pemandangan yang marak terjadi dan dijalani anak didik.
Pendidikan saat ini tidak memperhatikan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Yakni menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang. Sehingga SDM yang dihasilkan juga tidak mempedulikan tujuan dia diciptakan. Mereka tidak mempunyai kesadaran lagi bahwa Allah selalu mengawasi manusia. Akhirnya korupsi, tawuran, penipuan, suap menyuap, dan yang lainnya menjadi hal yang biasa.
Para peserta didik mendapatkan suplai informasi hanya untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. Peserta didik dijejali dengan bahan ajar yang membuat mereka berpaham sekuler-meterialistik. Menjadikan materi sebagai tujuan hidup dan cenderung melalaikan agama. Apalagi guru yang mengajar juga tidak mempunyai kompetensi yang cukup. Dengan pola pendidikan yang demikian maka sangat wajar jika kemudian negeri ini tetap berada dalam keadaat yang stagnan, bahkan mundur.
Sarana dan prasarana yang tidak memadai dalam mendukung proses belajar mengajar serta biaya pendidikan yang mahal semakin menambah ruwetnya pendidikan di negeri ini. Akhirnya hanya orang-orang yang berpunya saja yang bisa mengenyam yang namanya pendidikan. Sedangkan yang miskin “good bye”. Sampai-sampai ada pernyataan, “orang miskin dilarang sekolah”.

Membangun Paradigma Baru

Islam sebagai sebuah Diin yang paripurna mempunyai aturan yang khas dalam mengatur kehidupan manusia, termasuk urusan pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan Islam berdiri diatas Aqidah Islamiyah yang menjadikan syari’at sebagai standar dalam mengambil kebijakan disekitar pendidikan itu sendiri —kurikulum, strategi, dan tujuan—, dari asas inilah kemudian dihasilkan sebuah sistem yang khas. Itulah system pendidikan Islam.
Pendidikan islam dibangun atas landasan bahwa menuntut ilmu adalah untuk memenuhi perintah Allah dan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Maka dalam system pendidikan Islam yang ditekankan adalah bagaimana SDM yang dihasilkan merupakan orang-orang yang menguasai ilmu-ilmu agama (tsaqofah islam), seperti ushul fiqh, fiqih, ulumul qur’an, hadist, tafsir, dan lain sebagainya, tanpa melupakan ilmu kehidupan dunia (kimia, fisika, biologi, kedokteran dan lain-lain).
Orientasi pendidikan Islam adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang ber-syakhsiyah Islamiyah —yakni berpikir islami (aqliyah islamiyah) dan bersikap islami (nafsiyah islamiyah)—, memadai dalam tsaqofah islam dan ahli dalam ilmu kehidupan. Tidak seperti pada pendidikan sekuler yang memisahkan tujuan ini, system pendidikan menjadikan ketiga tujuan ini terintegrasi menjadi satu-kesatuan. Selain itu, pendidikan dalam islam menjadi media utama bagi dakwah dan menyiapkan anak didik yang tangguh agar kelak mampu menjadi kader ummat yang akan ikut memajukan masyarakat islam.
Dalam system pendidikan islam ada standarisasi bagi guru, yakni harus memenuhi kualifikasi: Kafa’ah (menguasai materi dan metodologi), Amanah (terpercaya dan bertanggungjawab sebagai pendidik), Qudwah hasanah (sebagai agen transfer nilai, patut diteladani), dan Himmatu al-’amal (semangat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja).
Dari system pendidikan bermutu tinggi seperti inilah maka di masa lalu lahir pribadi-pribadi istimewa yang berjiwa pemimpin, faqih dalam urusan agama, dan berkompeten dalam urusan dunia. (beberapa contoh bisa dilihat dalam tulisan “Kejumudan Berpifikir”, ed.)
Secara ringkas beberapa paradigma dasar bagi pendidikan dalam framework Islam, yakni:
1. Islam meletakan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah islamiyah. Pada aspek ini diharapkan lahir manusia terdidik dengan aqliyah islamiyah dan nafsiyah islamiyah.
2. Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shalih dan ilmu yang bermandaat. Dalam prinsip ini, yang menjadi pokok perhatian adalah kualitas, bukan kuantitas.
3. Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia agar benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin sebagaimana visi Islam, dan meminimalisir kemungkinan efek negatif.
4. Keteladanan merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses pendidikan. Disinilah mengapa kemudian salah satu standar guru dalam sistem Islam adalah Qudwah hasanah.
Selain semua itu, dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan islam maka lingkungan harus dibentuk sesuai dengan ajaran islam. Karena lingkungan termasuk bagian dari dimensi yang membentuk manusia. Lingkungan yang dimaksud adalah rumah (keluarga), sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pemikiran, perasaan, dan system/aturan yang ada harus dibangun dari aqidah islam.

Khatimah


Allah SWT telah mengingatkan kepada kita bahwa berubah atau tidaknya suatu kaum tergantung kepada kaum itu sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Begitu pula dengan keadaan pendidikan kita saat ini.
Jika kita menginginkan pendidikan yang bermutu, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, yang sesuai dengan ajaran Islam maka menjadi tugas kita untuk mewujudkannya. Islam telah diturunkan dengan sempurna dan kitapun meyakini kebenarannya. Sekarang yang kita perlukan hanyalah mengganti asas yang ada saat ini, yakni sekulerisme, dengan Aqidah Islam. Karena dari sinilah semua aturan kehidupan manusia diambil, termasuk masalah pendidikan.
Yakinlah, ketika islam menjadi pondasi dalam menata hidup ini maka semua keberkahan menjadi sesuatu yang pasti. Dan sebaliknya, jika kita mengabaikannya maka siksa lah yang akan menimpa kita. Itulah janji Allah kepada manusia. “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96). Wallahu a’lam bishshawab.

ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 06.47 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?