Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Selasa, 16 September 2008

Bangkit Bermodal Akhlak, Mampukah? (Refleksi Ramadhan) - buletin edisi september 2008


(buletin Al-Izzatul Islam edisi Ramadhan 1429 H)
- Download di sini -



Bangkit Bermodal Akhlak, Mampukah?
(Refleksi Ramadhan)

Oleh Saparudin
(Koordinator Divisi Pembinaan & Pengkaderan LDK AMAL)


Dari Penulis
Ramadhan, bulan penuh berkah dan maghfirah itu, yang dinanti-nanti telah datang. Syukur sepenuhnya akan nikmat kesempatan dari-Nya ini. Di bulan yang mulia ini, sangat pantas kita berdiam diri sejenak—sebagaimana biasanya—untuk melakukan muhasabah (koreksi). Selami diri dengan mendalam, mengoreksi diri kita sendiri sebelum hisab-Nya berlaku.

Apa andil kita untuk Islam hingga hari ini? Apa saja yang telah kita lakukan, ditengah menatap sistem kufur yang berlaku di kehidupan ini? Berdiam diri atau memperjuangkan syariat-Nya?

Juga muhasabah bagi keadaaan umat. Tahun ini umat dizholimi lebih keras dan lebih menyakitkan. Akidah terancam, aliran sempalan dan kristenisasi semakin melaju di mana-mana. Harga barang, besok naik lusa naik. Kriminalitas dan tindak asusila tidak kalah. Korupsi dan suap dianggap pola "hidup sehat". Dan sebagainya - dan seterusnya. Secara mutlak kita butuh solusi.

Dalam kedhoifan diri ini, yang begitu hina dihadap-Nya, mencoba menuangkan sedikit pengetahuan dalam tulisan ini. Muhasabah kali ini, adalah diskurus seputar akhlak dan metode kebangkitan umat dalam perspfektif Islam. Semoga berguna—walau sedikit—sebagai bagian dari upaya menyikapi masalah yang mendera umat ini. Nyatanya, kebenaran hanya milik Allah Swt. semata, manusia tempat salah dan khilaf. Selamat membaca.

“Sesungguhnya orang yang lebih aku cintai di antara kalian,
dan lebih dekat kepadaku tempatnya pada hari kiamat,
adalah siapa saja di antara kalian yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Bukhari).

Mukaddimah
Islam adalah agama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw., yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-Nya yang berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah, hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam mua’malah dan uqubat, hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam akhlak, pakaian dan makanan/minuman.

Seluruh aspek diatas wajib untuk dijalankan. Tak terkecuali akhlak. Memang kalau diperhatikan, dalam Islam akhlak hanya mendapat porsi yang sedikit dibandingkan rincian lainnya, bahkan dalam kitab-kitab klasik fiqih tidak dibuat satu bab pun yang khusus membahas akhlak. Namun demikian, akhlak tetap merupakan salah satu hukum Islam yang tidak bisa diabaikan. Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap Muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam dan sempurna dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Swt.

Berangkat dari pentingnya akhlak dalam Islam, realita terabaikannya, serta kekeliruan pemahaman akhlak oleh sebagian besar kaum muslimin, juga keinginan ingin memposisikan akhlak sesuai porsinya, pembahasan ini diajukan.

Definisi Akhlak
Akhlak, dalam bahasa arab berasal dari lafadz khalq yang berarti tabiat dan ciri khas. Jadi, akhlak Islam ialah sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang Muslim agar dijadikan sebagai sifatnya ketika melakukan perbuatan. Sehingga akhlak wajib dimiliki oleh setiap Muslim ketika melaksanakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Akhlak dapat dilihat pada diri seseorang Muslim hanya ketika melakukan aktivitas tertentu, misalnya jujur ketika bermua’malah, khuysu’ dalam shalat, berlemah lembut dalam berdiskusi, adil dalam memimpin, dan lainnya.

Pandangan Islam terhadap akhak bersifat khas, yang sayangnya ternyata banyak berbenturan dengan pandangan masyarakat umum pada saat ini. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa konsep berikut:

1. Islam tidak memahami akhlak dari segi tingkah laku dan sifat moral semata, tetapi akhlak merupakan salah satu dari berbagai hukum Islam yang rahmatan lil alamin ini. Jadi, akhlak tidak bisa dipisahkan dari hukum syara’.
2. Islam menentukan bahwa akhlak (yang baik atau buruk) tidak boleh/bisa ditentukan oleh manusia sesuai realitas, adat istiadat, perkembangan zaman maupun suara mayoritas yang sifat kebenarannya relatif. Akhlak merupakan bagian dari hukum syara’ yang bersifat tetap yang memiliki nash dari sumber hukum Islam.
3. Tujuan akhlak semata-mata hanya untuk menjalankan perintah dan larangan Allah dan mendapatkan keridhoan-Nya, bukan karena ingin mendapatkan penilaian terpuji, tingginya moralitas dan gelar-gelar manusiawi lainnya.
4. Karena akhlak bersifat tetap dan merupakan ketentuan Allah yang tidak selamanya sejalan dengan realitas, adakalanya akhlak yang baik menurut syara’ dianggap buruk menurut manusia, pun sebaliknya.

Karena itu, yang perlu digaris bawahi hendaknya kaum muslimin memiliki akhlak mulia yang hanya dilandasi oleh keyakinan bahwa sifat-sifat akhlakiyah merupakan perintah dan larangan Allah SWT, bukan didasari oleh hal-hal lain, semisal karena akhlak mengandung nilai-nilai universal yang tinggi dan mulia.

Dengan demikian, seorang Muslim berbuat jujur, menghiasi diri dengan amanah, juga berkata-kata yang baik karena memang Allah memerintahkan. Seperti itulah.

Hukum Akhlak
Sudah dipaparkan dari penjelasan diatas, Akhlak hukumnya wajib bagi seluruh kaum muslimin. Nash berikut menarik untuk diperhatikan:

“Sesungguhnya orang yang baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”
(Muttafaq’alaih).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra; Rasulullah SAW pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke surga, kemudian beliau bersabda: “Perkara itu adalah takwa dan akhlak yang baik”.

Diriwayatkan dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang tidak suka berbantah2 meskipun besar; dan rumah di tengah2 surga bagi orang yang tidak suka berdusta; dan rumah di bagian paling atas surga bagi orang yang baik akhlaknya.
(HR. Abu Dawud).

Dan banyak lagi nash lainnya. Semoga kita termasuk orang yang berakhlak baik. Amin.

Panutan Dalam Berakhlak
Rasulullah merupakan tauladan kita dalam segala aspek, termasuk dalam berakhlak. Rasulullah merupakan orang yang paling baik akhlaknya. Dalam hal sabar, beliau orang paling sabar walaupun ketika menyampaikan risalah Allah mesti disiksa, dihina, diboikot bahkan hendak dibunuh oleh kaum kafir. Akhlak para sahabat juga, dalam hal mengutamakan orang lain, Ali bin Abi Thalib sanggup mengorbankan dirinya untuk tidur menggantikan Rasulullah yang sedang terancam dibunuh oleh orang kafir.

Begitu juga sahabat yang lain. Adalah ikrimah bin Jahal, Suhayl bin Amru, al-Haris bin Hisyam dan sejumlah Bani Mughirah telah menemui ajalnya secara bersama-sama dalam kehausan pada saat perang Yarmuk. Diantara mereka ada yang mempunyai air, tapi ketika melihat yang lain lebih memerlukan, diberikan air itu kepada yang lain hingga bergilir sampai akhirnya air tersebut kembali pada orang yang pertama dan setelah itu semuanya meninggal dunia. Dan masih banyak lagi kisah akhlak Rasul dan para sahabat yang patut kita tiru.

Akhlak Baik-Akhlak Buruk
Akhlak dibagi menjadi dua, yakni akhlak baik; akhlak yang menurut syara’ baik yang wajib dijalankan, dan akhlak buruk; akhlak yang menurut syara’ buruk yang mesti ditinggalkan. Diantara yang termasuk akhlak baik adalah: jujur dan menjauhi sifat dengki (hasad), menepati janji, suka memaafkan, menjauhi perbuatan mengunjing dan adu domba. “Tidak akan masuk sorga orang yang suka menggadu domba” (HR Muttafaq’alaih), menghormati tamu, menyebarkan salam, amanah, dan lainnya. Diantara yang temasuk akhlak buruk adalah: dusta, berkata kotor “penghuni neraka ada lima golongan,… diantara orang yang kasar dan perangainya keji (Muttafaq’alih), banyak berbicara yang dibuat-buat, berperasangka buruk kepada kaum Muslim, menggunjing, memutuskan tali silaturahmi “tidak akan masuk sorga orang yang suka memutuskan silaturahmi (Muttafaq’alih).

Akhlak dan Dakwah
Sekali lagi akhlak merupakan aspek penting yang mesti dimiliki oleh seorang muslim, lebih-lebih oleh seorang pengemban dakwah. Akhlak merupakan salah satu modal awal dalam dakwah. Susah dibayangkan seorang pengemban dakwah yang berakhlak buruk bisa diterima di masyarakat. Jadi, Wahai pengemban dakwah, berakhlaklah dengan baik!

Akhlak seorang muslim/pengemban dakwah akan mempunyai pengaruh yang signifikan, dengan antara lain:

1. Melaksanakan akhlak dengan taklif syar’i akan menciptakan kepribadian yang unik ketika berinteraksi dengan khalayak ramai. Masyarakat menjadi mudah menaruh percaya dengan kata dan perbuatannya.
2. Akhlak akan bisa menumbuhkan kasih sayang dan sikap hormat khususnya antar sesama anggota keluarga, sesama pengemban dakwah, dan yang terpenting dengan masyarakat.
3. Orang yang berakhlak baik akan mendapat pahala dari Allah Swt. dan sorga di akhirat kelak.

Akhlak dalam Konteks Kebangkitan Umat
Zaman sekarang kefasadan merebak di mana pun, jelas masyarakat sedang sakit akut. Untuk itu, perlu suatu upaya memperbaiki masyarakat menuju kebangkitan. Muncullah berbagai studi dan cara membangkitkan umat, salah satunya; perbaikan umat akan terwujud dengan perbaikan individu. Yang membangun –maupun yang menghancurkan- individu adalah akhlaknya. Jadi perbaikan masyarakat harus dilakukan dengan perbaikan akhlak sehingga menghasilkan suatu kebangkitan.

Padahal pada dasarnya akhlak tidak mempengaruhi secara langsung kebangkitan maupun kejatuhannya suatu masyarakat Alasannya; pertama, sebenarnya konteks yang hendak dikaji adalah kebangkitan umat bukan kebangkitan individu. Untuk membahas kebangkitan masyarakat, kita harus memahami dan mengurai unsur-unsur penyusun masyarakat lebih dulu, sebelum masuk sesi cara untuk mengubah masyarakat.

Masyarakat tidak hanya sekedar kumpulan individu. Lebih dari itu, faktanya, masyarakat tersusun atas individu, pemikiran, perasaan dan aturan yang diberlakukan di tengah-tengah mereka. Perhatikan, dalam sebuah masyarakat akan terjalin interaksi yang dilandasi oleh pemikiran, perasaan dan peraturan yang mereka sepakati. Apalagi, ternyata dari definisi yang komprehensif tersebut, bisa ditemukan faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat bukanlah individunya, tetapi pemikiran dan aturan yang diterapkan.

Renungkan, dalam suatu masyarakat terdapat individu yang saling perhatian, jujur, dan sabar. Tapi dalam alam pemikiran mereka, pacaran dan hamil diluar nikah adalah barang biasa. Pertanyaannya sekarang, mengatasinya dengan merubah akhlak atau pemikiran tersebut ? Kasus lain, dapat dilihat, umat Budha terkenal menjunjung nilai-nilai akhlak (dalam artian nilai universal), masyarakat jahiliyah dulu juga terkenal sangat menghargai tamu perwira. Namun, toh mereka umat yang kufur, umat yang tertinggal.

Di sisi lain nilai-nilai akhlak (sekali lagi sebagai nilai universal) bukanlah nilai yang berdiri sendiri. Akan tetapi, selalu melekat pada perbuatan tertentu. Jujur tidaknya seseorang tidak bisa diketahui kecuali ia melakukan aktivitas tertentu, sehingga jujur bisa melekat pada perbuatan apapun, halal maupun haram. Jujur bisa melekat pada pegawai bank riba, juga pada anggota parlemen yang menciptakan aturan-aturan kufur. Dalam hal ini, sikap tegas seorang pengemban dakwah tentu lebih terhormat (berakhlak) daripada lemah lembutnya anggota dewan terhormat ketika melegalkan SDA dikeruk korporasi asing.

Kedua, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang saat ini maju, kita bisa menyimpulkan, akhlak yang dimiliki kaum muslimin lebih tinggi dibandingkan dengan akhlak bangsa lain. Misal, antara Mesir dengan Inggris atau Arab dengan Amerika, atau yang lainnya. Nyatanya, kaum Muslim tetap saja mundur dan tertinggal dengan bangsa lain yang akhlaknya lebih rendah.

Ketiga, fakta menunjukkan, propaganda, seruan, buku, poster, ceramah, dan lainnya yang menyerukan kepada akhlak tidak begitu memberikan pengaruh bagi kebangkitan kaum muslimin, dalam arti kebangkitan yang hakiki. Suka tidak suka. Umat Islam tetap mundur dari segi politik, ekonomi dan hukum. Untuk memperbaiki ekonomi yang hancur saat ini, tidak mungkin diserahkan hanya kepada orang yang berakhlak mulia, namun perlu orang yang mempunyai pemikiran ekonomi Islam (disamping orang itu juga mesti berahklak mulia).

Keempat, pada sejarahnya, siroh nabawiyah mengajarkan, bahwa Rosulullah membangkitkan masyarakat jahiliyah menjadi umat Islam yang mulia dan tinggi itu ternyata tidak bermodal akhlak saja. Asumsi bahwa akhlak fundamen yang terpenting dan satu-satunya dalam dakwah hari ini bisa menjadi boomerang. Sebab, sama saja melihat konsepsi Islam dengan sudut pandang yang reduksionis. Lihat, Rosul memulai dengan pembinaan para sahabat menjadi manusia-manusia berkepribadian Islam (secara otomatis, manusia yang berkepribadian islam akan berakhlak Islami pula). Lalu melakukan interaksi pada masyarakat, berdakwah, ghozwul fikr, dan membongkar makar-makar kaum kafir. Terakhir, mendirikan daulah Islam di Madinah. Sebagai metode menerapkan, mempertahankan dan menyebarluaskan Islam secara kaffah. Inilah kebangkitan hakiki itu.

Walaupun demikian, tidak berarti meremehkan akhlak atau memandang akhlak tidak penting, telah dijelaskan sebelumnya bahwa akhlak itu penting. Tapi dalam konteks kebangkitan, harus diakui bahwa memperbaiki akhlak bukan metode yang tepat untuk membangkitkan umat.

Singkatnya, akhlak bertempat pada karakter seorang muslim (terlebih lagi bagi para pengemban dakwah). Namun, bukan sebagai metode kebangkitan umat.

Simpulan
Sebagai penekanan, akhlak merupakan sifat yang diperintahkan Allah yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin, terlebih bagi pengemban dakwah. Akhlak mesti dilandasi oleh akidah Islam, berakhlak mulia semata-mata karena merupakan perintah dari Allah Swt. Akhlak Rasulullah dan para sahabat adalah contoh nyata yang bisa kita tiru.

Namun, dalam konteks kebangkitan umat, perbaikan akhlak bukan lah fokus utama dalam upaya membangkitkan umat. Kita butuh lebih dari sekedar "nurani", hemat kata, butuh seperangkat ideologi yang solutif. Jika kita mau untuk mencoba lebih realistis.

Semoga momentum Ramadhan tidak pergi begitu saja dari kita, tanpa meninggalkan hikmah dan kesadaran. Baik pada diri maupun perjuangan ini. Wallahu’alam bis showab




Daftar Bacaan
o BKLDK (Badan Koordinasi Dakwah Kampus), Mafahim BKLDK, 2006, Komas BKLDK.
o Hafidz Abdurrahman, Islam Politik dan Spritual, WADI press; Jakarta.
o Hizbut Tahrir, Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, 2004, HTI press; Jakarta.
o Syamsuddin Ramadhan al-Nawiy, Membangun Peradaban Dunia; tauladan Rasul SAW dalam menata masyarakat, 2005, WADI press; Jakarta.
o Taqiyuddin an-Nabhani, Pembentukan Partai politik Islam, 2007, HTI press; Jakarta.
o Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, 2003, Pustaka Tariqul Izzah; Bogor.

ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 01.32 Kategori:

3 komentar:

  1. MARI BERSIAP MENYAMBUT KEMENANGAN
    SABRAN MAKASSAR

    BalasHapus
  2. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?