Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Jumat, 26 September 2008

Berlomba Memburu Lailatul Qadar


Di tengah geliat masyarakat mengejar Lailatul Qadar; mendapatkan pahala yang derajatnya setara 83 tahun, ada orang yang justru menjadikan sepuluh terakhir Ramadan sebagai training perbaikan diri.

Muslimin dan Muslimat di sepuluh terakhir Ramadan, bergeliat mengejar Lailatul Qadar atau malam kemuliaan yang derajatnya setara beribadah 1000 bulan.

 Salah satu motivasi itulah, membuat Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Sabtu (20/9) tengah malam di luar dugaan dipenuhi jamaah, baik pria, perempuan, remaja dan anak-anak. Bahkan sejak pukul 22.00 Wita sudah ada beberapa yang i’tikaf untuk berjaga-jaga menggapai Lailatul Qadar.

Salat malam dipimpin imam rawatib, ustadz Syaiful Rahman mulai pukul 02.00 hingga 03.00 Wita disertai doa-doa yang lumayan panjang membuat suasana semakin khusyu.

Jamaah yang datang tidak hanya dari warga Kota Seribu Sungai, tetapi dari pinggiran seperti Banyiur yang datang secara berkelompok.


Usai salat malam itu, mereka sahur di serambi masjid, membawa makanan dari rumah, ada juga jamaah yang kebetulan tidak membawa bekal sahur, mereka disediakan pihak Sabilal Muhtadin.

Ada juga setelah sahur, bergegas kembali membaca Alquran seraya menunggu tibanya waktu salat Subuh; ada yang tidur, pemandangan ini tampak bertebaran di ruang induk saat itu.

Adalah Faisal, lelaki bertubuh tinggi besar ini, jauh-jauh dari Kayu Tangi menuju Masjid Sabilal Muhtadin sejak pukul 22.00 Wita. Sesampai di masjid, ia mendirikan salat tahiyatul masjid, kemudian membaca Alquran.

Di tengah sepinya suasana, hanya ada terlihat 2-3 lelaki dalam ruangan itu, ia terus khusyuk membaca Alquran.

"Dari pukul 22.00 Wita hingga menjelang salat malam, dapat membaca Alquran empat juz," ungkap Faisal.

Matanya yang saat itu terlihat masih lelah, tetap bersemangat menceritakan maksud tujuan datang beri’tikaf di malam 10 akhir Ramadan ini.

Menurut dia, untuk mendidik diri supaya lebih baik dalam menjalani hidup ini.

Anehnya, ketika orang pada malam itu menanti Lailatul Qadar untuk mendapat pahala, Faisal motivasinya justru lain, peribadatan malam ini yang penting mendidik diri, ungkap alumni Fakultas Ekonomi Unlam ini.

Dia sudah sekian tahun rutin melaksanakan i’tikaf, karena manfaatnya banyak terhadap pribadi dan keteduhan dalam rumah tangga, bahkan berdampak positif pada pekerjaan ungkapnya.

"Kalau orang seperti saya mana mungkin dituruni Lailatul Qadar," tegasnya senyum sambil permisi pulang.

Masjid Hasanudin

Malam perdana sepuluh terakhir Ramadan memang masjid menjadi tempat i’tikaf, tidak hanya Masjid Sabilal Muhtadin, Masjid Hasanudin Majedi juga tampak geliat jamaahnya salat malam, meskipun dilaksanakan tidak berjamaah.

Indahnya lagi, masjid di jalan strategis ini, lampu-lampunya di tengah malam itu bercahaya terang benderang, sehingga menambah semangat.

Justru berbanding terbalik di Mesjid Jami Sungai Jingah, pada malam itu sekitar 300-an jamaah mengikuti salat malam yang dipimpin KH Husin Naparin Lc MA, tetapi lampu ruang induknya sengaja dipadamkan, sehingga salat terasa khusyu, apalagi warna suara imamnya yang sangat merdu.

Geliat Muslimin melaksanakan salat, karena memang Rasulullah menyunahkan seperti dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda "carilah Lailatul Qadar pada 10 malam yang akhir di bulan Ramadan, pada sembilan malam atau tujuh atau lima malam akhir (HR Bukhari).

Bahkan saking bersemangatnya Rasul melaksanakan 10 terakhir Ramadan, dari Aisyah, ia berkata, ketika memasuki sepuluh malam yang akhir pada bulan Ramadan, Rasul mengencangkan ikat pinggangnya untuk beribadah sepanjang malam dan membangunkan keluarganya untuk beribadah (HR Bukhari). ü

Oleh: Ibrahim Ashabirin
Banjarmasin Post Online


ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 08.11 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?