Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Kamis, 31 Juli 2008

HILANGNYA PARA MARTIR



“Jika hanya sebagai agama, Islam niscaya dengan mudah diterima oleh Masyarakat Arab.. (tetapi) kehadiran Islam adalah revolusioner,
sebab dia menolak
sistem ekonomi, sosial, dan politik dengan segala implikasi moralis yang telah
membusuk di zamannya”
(Ashgar Ali Engineer).

KETIKA kita memasuki dunia kampus, banyak yang akan bahkan pasti berubah dari diri dan hidup kita. Kita akan menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam memandang dan menilai segala sesuatunya. Di samping itu, hal-hal baru akan ditemui dalam kehidupan kita.


Tetapi inti, dari ke semua itu adalah keharusan memanjatkan puji syukur kepada Allah karena kita menjadi orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sebab di sana masih banyak saudara-saudara kita tidak bisa merasakan nikmatnya menuntut ilmu, bukan karena mereka tidak mau. Tetapi kerasnya kehidupan yang memaksa untuk tidak mampu mengecap bangku sekolah. Jangankan untuk pendidikan, untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka harus berteman dengan terik panas di siang hari dan gigil di malam hari.

Permasalahan di atas adalah hanya secuil kecil, dari setumpuk problema umat dan bangsa pada hari ini. Jika kita mencoba untuk mengulik “prestasi bangsa”, maka di sana ada: ketidakadilan, pengangguran, mati kelaparan, BBM mahal, korupsi merajalela, kriminalitas tinggi, krisis moral, d.l.l. Melihat kenyataan pahit ini, maka seorang intelektual muslim mempunyai dua kewajiban pokok yaitu belajar dan berjuang.

Kita membutuhkan sebuah konsepsi untuk bisa memahami persoalan-persoalan negara dan umat ini. Jika kita pikirkan lebih lanjut tentang persoalan bangsa ini, maka kita akan menemukan satu kesimpulan. “Ini negara gagal”. Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa bisa muncul statement seperti itu?

Realitanya, apa yang menjadi tujuan dari sebuah negara sangat jauh dari yang semestinya. Tidak perlu teori tata negara yang rumit, semua pasti sepakat negara di bentuk untuk mencapai tujuan-tujuan mensejahteraan rakyat, menjamin keamanan masyarakat, dan menyelesaikan problematika yang terjadi di antara rakyatnya. Namun Indonesia, negara gagal ini, tak ubahnya dagelan tidak lucu.

“Fungsi pemimpin adalah mengurus rakyat dan dia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dia urus.”
(Al-Hadits)

Inti dari semua permasalahan ini adalah sistem demokrasi yang diterapkan—membuka kesempatan luas bagi kapitalisme untuk dapat merampok hingga puas. Dikuasailah segala sektor baik politik, hukum, sosial, ekonomi, maupun budaya. Demokrasi diyakini seolah seperti jalan mulus yang akan menghantarkan masyarakat pada cita-cita mulia kebangsaaan. Pemujaan terhadap demokrasi kini layaknya koor tunggal nyanyian para “intelektual”. Seakan dengan demokrasi semua persoalan bangsa dapat tuntas.

Demokrasi tak lebih sistem kebanggaan para elit politik tapi sengsara bagi rakyat yang atasnya diterapkan. Dalam sistem demokrasi orang kaya tambah makmur orang miskin makin sengsara.

“Demokrasi sungguh sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden, engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bergerak. Di Negara dmokrasi engkau boleh memilih barang yang engkau sukai tapi kalau kau tak punyauang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu.”
(Pramoedya Ananta Toer)


Dalam negara demokrasi pemerintah tak ada nyali (atau memang menghamba?, Ed) untuk melawan kapitalisme, bahkan mereka dengan senang hati tunduk kemauan pasar. Sehingga dalam pembuatan hukum ataupun mengambil kebijakan, selalu ada kepentingan pasar menyusup yang tak lebih milik kaum kapitalis.

Memang banyak kemajuan pembangunan fisik di negara ini; mulai dari gedung pencakar langit, hotel-hotel megah, klub-klub hiburan, dan mall-mall mentereng. Tapi sungguh sayang, bukan itu yang dibutuhkan rakyat! Rakyat butuh kesejahteraan, butuh pendidikan murah, pelayanan kesehatan dan jaminan keamanan. Tapi itu tidak bisa diberikan sistem negeri ini, mereka hanya memberikan itu semua kepada orang yang berduit. Maka lahirlah semboyan orang miskin dilarang sekolah, orang miskin dilarang sakit, orang miskin dilarang . . . .

Di sinilah fungsi seorang intelektual dipertanyakan. Kemana mereka pada saat rakyat kelaparan?? Kemana perjuangan mereka saat rumah sakit menolak orang-orang yang tak berduit?? Apa peran mereka saat kesenjangan sosial terjadi?? Kemana. . . . . . . ???
Teringat kata seorang teman, sungguh munafik jika mahasiswa mengaku diri mereka agent of change, sedangkan nyatanya mereka tidak pernah berbuat apa-apa! Walaupun mereka bergerak, solusi yang mereka tawarkan tetap sama—demokrasi belaka. “Demokrasi lagi dan lagi”.

“Demokrasi merupakan musuh terburuk kita. Kita harus siap melawannya karena demokrasi menguburkan pemisahan kelas yang tegas”.
(Antonio Gramsci)


Bagaimana bisa dikatakan merdeka?! Faktanya, hingga sekarang kita masih menjalankan sistem kapitalis. Artinya, sudah puluhan tahun kita dijajah. Jika faktanya terus gagal apakah akan masih tetap dipertahankan??

Jadi sudah saatnya kita katakan LAWAN pada sistem negeri ini!!!

Sudah saatnya hari ini kita memperjuangkan revolusi Islam. Jika kita memang menginginkan perubahan mendasar dan menjawab gelar “agent of change.” Sudah saatnya saudaraku, kita sebagai intelektual muslim menyatukan visi.

Solusi yang kita tawarkan dan perjuangkan adalah hukum dari Allah yaitu syariat—sistem politik, ekonomi, hukum, dan sosial-budaya Islam. Cuma itu satu-satunya konsep yang bersifat revolusioner dan solutif.

Syariah adalah solusi yang tidak hanya slogan belaka. Tapi dapat dipertanggungjawabkan dalam tataran ideologis, paradigmatik, maupun praktis.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(TQS. Al-Ma’idah [5]: 50)


Jadilah bagian dari kejayaan Islam saudaraku! Jadilah pejuang Islam layaknya Umar bin Khattab, Khalid Ibn Walid, Abu Dzar al-Ghifari, dan Shalahuddin al-Ayubi. Jadilah pula Sayyid Qutb, Hasan al-Bana, dan Taqiyyudin An-Nabhani. Kita harus menjadi mujahid Islam yang tak pernah takut dan gentar untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi!!

Persiapkan dan didik diri kalian untuk menjemput kembali kejayaan Islam. Camkan, “Islam will dominate the world”. Jangan mundur dari cercaan orang munafiq atau fasiq—dibilang radikal atau fundamentalis. Seandainya untuk memperjuangkan Islam kita harus dicap sebagai radikal atau fundamentalis, maka jawablah dengan tegas dan lantang, “Ya! Kami memang radikal kami memang fundamentalis!!”

“Prinsip fundamental dalam Islam bersifat Revolusioner. Ia adalah revolusi melawan pendewaan manusia, melawan ketidak adilan melawan prasangka politik, ekonomi, ras, dan agama”
(Sayyid Qutb)


Selamat datang mahasiswa baru-pejuang muda-calon intelektual muslim di kampus perjuangan. Kami tunggu dan tantang kalian untuk berdakwah dan berjuang bersama untuk Islam.
Mungkin kita tak seberani layaknya para martir pendahulu: Ali Syariati, Hasan Al-Bana, Sayyid Qutb, atau Taqiyyudin An-Nabhani dalam menentang kedzaliman. Tapi kita selalu berusaha berjuang dan mendidik diri menjadi pejuang intelektual muslim yang progressif seperti mereka.

(Abdurrachman Ardhi)

ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 06.01 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?