Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Selasa, 02 Maret 2010

MENOLAK KEDATANGAN OBAMA

Oleh: Muhammad Tohir*

Dalam beberapa hari ini dan kemungkinan akan terus berlanjut hingga akhir maret, hangat dibicarakan isu akan datangnya Obama ke Indonesia. Menurut berita obama akan berkunjung ke Indonesia pada pada pertengahan maret ini. (indomagz.com)
Dalam kunjungannya nanti itu, rencananya Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan secara resmi meluncurkan US-Indonesia Comprehensive Partnership, sebuah inisiatif di mana Amerika Serikat akan memperluas dan memperkuat hubungan dengan Indonesia untuk menangani isu-isu regional dan global. (www.indomagz.com).
Kemitraan tersebut juga dimaksudkan untuk lebih merekatkan tali kerjasama kedua belah pihak. Tidak hanya menyangkut satu isu, namun juga hubungan yang lebih merata, baik di bidang energi, iptek, perdagangan, investasi, pendidikan, dan lain sebagainya. (detik.com)

Ada diskusi tentang penyusunan isi kemitraan komprehensif yang akan diluncurkan. kata Jurubicara Presiden, Dino Patti Djalal. Makna dari kunjungan adalah untuk mengintensifkan hubungan Indonesia-Amerika untuk beradaptasi dengan tantangan abad ke-21.(detik.com)
Reaksi akan rencana terebutpun beragam. Ada yang berharap kunjungan itu benar-benar dilakukan, karena mereka menganggap datangnya Obama ke Indonesia akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Bahkan salah seorang petinggi ormas islam yang dikenal sebagai tokoh islampun memberikan pernyataan bahwa berkunjungnya Obama ke Indonesia akan memperbaiki hubungan Amerika dan dunia Islam. Ada pula yang member reaksi sebaliknya. Mereka menolak kedatangan obama ke Indonesia. Mereka yang menolak ini berasal dari tokoh-tokoh dan ulama yang mengetahui bagaimana track record Obama selama menjadi Presiden Amerika terhadapa ummat Islam.
Sebelum kita menentukan sikap kita dalam member reaksi terhadap rencana berkunjungnnya Obama ke Indonesia, maka kita harus bisa melihat fakta yang ada dengan benar tentang Obama dan Negara yang dipimpinnya, kemudian mengaitkannya dengan nash-nash yang berkaitan dengan rencana tersebut.
Fakta Obama dan Amerika
Ketika Obama dilantik menjadi Presiden Amerika, banyak kalangan yang berharap hal itu akan membawa arus perubahan yang berarti bagi dunia Islam. Namun sayang, hingga detik ini harapan itu hanya tinggallah harapan. Tak ada perubahan yang berarti. Yang ada malah sebaliknya, Obama melanjutkan “ritual” pembantaian kepada kaum muslimin di negeri-negeri Islam yang diwariskan oleh presiden Amerika sebelumnya, George W. Bush.
Lihat misalnya, Obama mengirim 3000 pasukan militer ke Afghanistan yang mengakibatkan ribuan nyawa kaum muslimin disana meninggal. Padahal saat yang sama dia mendapat Nobel Perdamaian (bataviase.co.id). Hal itu terus berlanjut hingga detik ini, dimana Amerika melakukan sebuah operasi yang disebut dengan operasi Mistarak dalam rangka menghancurkan basis-basis aktivis Mujahidin. Dan dengan pertolongan Allah lebih dari 1000 pasukan asing (Amerika dan sekutunya) yang tewas selama berada Afganistan. (eramuslim.com)
Lihat juaga bagaimana Amerika membiarkan Israel terus-menerus membunuh kaum muslimin di Palestina. Kita masih ingat bagaimana Israel telah membunuh lebih dari 1300 jiwa kaum muslimin di Palestina, tepatnya di jalur Gaza pada awal 2009 yang silam. Dan kebiadaban Israel terus-menerus hanya didiamakan saja oleh Amerika. Termasuk ketika Israel mengusir kaum muslimin yang inging shalat di Masjidil Aqsha’. Hal ini wajar karena memang Amerika dan Israel merupakan “dua sejoli” yang saling ta’awanu alal istmi wal ‘udhwan.
Dalam pidatonya, Obama berjanji akan membasmi Hamas, akan menangkap membunuh Osama bin Laden dan menghancurkan Taliban, serta mendukung Israel. bahkan dalam dalam kampanyenya Obama menegaskan bahwa dirinya adalah "sahabat sejati" Israel”. Obama juga berucap Yerusalem seharusnya menjadi ibukota bagi negara Yahudi. (eramuslim.com)
Belum lagi di Irak, Pakistan, dan negeri-negeri muslim lainnya yang hingga saat ini dijajah oleh Amerika. Inilah fakta Obama dan Amerika. Mereka adalah musuh Islam.
Memuliakan Tamu adalah Wajib
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi adab terhadap tamu. Ini lah yang diperintahkan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Shahihain. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang mengimani Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya (dhayfahu). Siapa saja yang mengimani Allah dan hari akhir, hendaklah menyambung tali silaturahmi. Siapa saja yang mengimani Allah dan hari akhir, hendaklah berkata hal-hal yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits ini dengan jelas mewajibkan kita untuk memuliakan tamu yang berkunjung ke rumah kita dan itu tidak terbatas hanya kepada orang islan saja, tetapi juga kepada semua orang meski orang tersebut kafir sekalipun. Karena dhayfahu dalam hadist tersebut bersifat ‘am (umum).
Jika Tamu itu adalah Obama
Sebagaimana dijelaskan dalam hadist diatas, kita diwajibakan untuk memuliakan tamu kita, baik muslim maupun kafir. Inilah seharusnya sikap awal kita (ingat: sikap awal) kepada siapa saja yang berkunjung ke begeri kita, termasuk Obama.
Namun bagaimana jika yang berkunjung itu adalah Obama, Presiden dari Negara penjajah yang membunuh jutaan kaum muslimin? Tentu hukumnya berbeda, karena memang ada dalil yang menjelaskannya.
Dalam surah al-Mumtahanah ayat pertama, Allah swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 1)
Dalam ayat ini Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menjadikan musuh Allah, musuh Islam dan musuh kaum muslimin sebagai teman. Begitu pula sikap kita kepada Amerika, maka kita haram menjadikan mereka teman setia kita karena Amerika adalah musuh Allah, musuh Islam, dan musuh kaum muslimin. Hal ini dengan jelas dapat kita lihat pada fakta yang sudah disampaikan diawal tulisan. Dan pernyataan-pernyataan pemimpin Amerika yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa “saat ini adalah masa Perang Salib”, seperti pernah diyatakan oleh Bush, presiden Amerika waktu itu dan hal itu diamini oleh semua pejabat Amerika (swaramuslim.com). Siapa lagi kalu bukan kita yang dimaksudkan mereka? Bukankah mereka adalah orang-orang salib?
Ini baru perkataan mereka saja, belum lagi kebencian yang ada dalam hati mereka tentu lebih besar daripada itu. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)
Selain itu, islam mengajarkan kita untuk tidak menyakiti saudara kita sesama kaum muslimin. Allah swt berfirman
“dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Hal ini dipertegas oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadist:
“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak mendzaliminya dan tidak akan menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari-Muslim)
Jika kita menerima kedatangan Obama berarti kita telah menyakiti kaum muslimin. Bayangkan seandainya yang menjadi korban-korban Amerika adalah kita disini, bagaimana rasanya jika kemudian saudara kita di negeri yang lain berpelukan dengan mesra dengan musuh kita? Apakah itu tidak mnyakitkan kita? Itulah yang akan dirasakan oleh saudara-saudara kita. Terutama saudara-saudara kita yang mersakan langsung secara fisik bagaimana kedzalimin yang dilakukan oleh Amerika seperti di Afghanistan, Irak, Pakistan, Palestina, dan di negeri-negeri yang lain. Apalagi dalam kunjungannya nanti, Obama dan SBY direncanakan akan membuat sebuah kerjasama US-Indonesia Comprehensive Partnership seperti dikutip di awal tulisan yang akan maengokohkan hegemoni Amerika di Indonesia.. Ini sama saja menyerahkan kaum muslimin kepada musuh islam!!!
Lihatlah ketika ada utusan Musailamah al-Kadzdzab yang menemui Rasulullah saw, maka Rasulpun bersabada, “seandainya kamu bukan seorang utusan, niscaya sudah aku penggal lehermu!” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Lihatlah sikap nabi, beliau tidak memberikan penghormatan kepada utusan musuh Islam yang berkunjung kepada beliau. Bahkan beliau menyatakan akan membunuh orang itu seandainya dia bukan seorang utusan. Ini menunjukan kewajiban kita untuk memberikan sikap yang keras kepada musuh Islam. Seperti ini pula seharusnya sikap kita kepada Obama.
Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa HARAM menerima tamu dari kalangan orang-orang yang memusuhi Islam dan kaum muslimin, termasuk juga Obama.
Penutup: Tuntut Mati Obama
Islam memang memberi tuntunan untuk menjamu tamu dengan baik. Namun jika tamu itu adalah obama maka tentu hal itu berbeda karena Obama adalah pembunuh saudara-saudara kita di Iraq, Afghanistan, Palestina dan negri-negri Islam lainnya, meskipun dia bukan eksekutornya namun Obama-lah yang menjadi komandonya (otaknya).
Obama adalah pembunuh yang menyebabkan banyak ister-isteri kaum muslimin menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim. Maka sikap kita bukan menyambutnya dengan senyum manis, tetapi seharusnya memberikan penolakan yang keras akan kedatangan Obama dan menuntutnya untuk di hukum mati. Wallahu a’lam bishshawab.

*Ketua Umum LDK AMAL periode 2010-2011

ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 22.33 Kategori:

3 komentar:

  1. Belajar dari Rasul : Beradab Kepada Musuh

    Seperti yang telah diketahui bahwa Rasulullah saw dilukai, dicela dan dicerca, dan dituduh dengan tuduhan palsu oleh masyarakat jahiliyah Quraisy. Manakala ada umatnya yang ingin meneladaninya, maka pada saat itulah, ia harus kembali kepada musuhnya dengan membawa selendang kesabaran, pemaaf dan tidak berambisi untuk populer. Dengan bekal-bekal karakter seperti ini, ia akan mampu menanggung beban dicela dan dihina dengan cara apapun. Ia juga rela atas perlakuan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat yang menyerabut haknya. Ketabahan ini menyebabkan Allah mengangkat derajatnya. Di antara hamba-hamba-Nya yang lain, menyempurnakan cahayanya, mewujudkan keterwarisannya atas para rasul di dalam menanggung segala ujian yang datang, dan memperlihatkan perbedaan tingkat martabatnya.

    Maka jelaslah bahwa mutlak bagi wali-wali Allah swt dan para ulama yang berkeinginan mengikuti jejak nabi akan mendapatkan perlakuan dilukai, seperti para nabi yang pernah dilukai oleh masyarakat sekitarnya. Mereka pun harus merasakan getirnya mendapatkan tuduhan palsu dan ucapan-ucapan yang keji. Seolah-olah dikatakan kepada mereka, “Bersabarlah seperti para nabi pernah bersabar !” mereka pun harus siap mengembangkan sikap kasih sayang kepada makhluk-makhluk Allah lainnya.

    Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka (QS Al An’Am [6] :34)

    Al Maushili memperingatkan dalam karyanya Manaqib Al Abrar, bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh pernah mengatakan : “Berhati-hatilah terhadap perkumpulan para qurra’. Karena mereka itu jika sedang menyukai anda, mereka akan memuji anda dengan hal-hal yang tidak ada pada anda dan mereka akan menutupi semua aib anda. Sebaliknya ketika mereka membenci anda, mereka akan melukai anda dengan tuduhan-tuduhan yang tidak ada pada anda. Dan anehnya secara sepihak semua orangkan menerima semua informasi dusta itu dari mereka.

    Dari itu, saya belajar dari Rasulullah saw untuk beradab kepada musuh. Maka setiap kali saya dimusuhi oleh seseorang, saya selalu mengambil satu dari tiga sikap :

    Pertama, apabila ia berderajat lebih tinggi dariku, maka aku hargai derajatnya.
    Kedua, apabila ia berderajat lebih rendah dariku, aku menahan harga diriku.
    Ketiga, apabila ia sederajat denganku, maka aku memberi perkenan kepadanya.

    Dalam peristiwa penaklukan Mekkah, dikatakan :
    “Barang siapa diam di rumahnya, maka dia aman....”
    “Barang siapa, masuk ke rumah Abu Lahab, maka dia aman...” dst. (Padahal pada saat itu Abu Lahab adalah musuh Rasulullah saw.)

    Dari peristiwa itu, dapat dilihat bahwa seorang muslim menghargai derajat musuhnya di kalangan kaumnya. Tidak pernah ada perlakuan yang menghinakan atau sewenang-wenang, walaupun musuh pada saat itu sudah tidak berdaya.

    Seorang muslim selalu berhati-hati terhadap orang yang teraniaya dan orang-orang yang senjatanya hanya doa dan tangisan. Karena pada saat itu tak ada orang yang menghijab / menghalangi doa orang tersebut dari Allah, walaupun doanya adalah doa yang bersifat menghancurkan.

    Inilah salah satu keistimewaan seorang seorang muslim, yaitu dengan memancarkan keistimewaan islam dalam hal aslam (keselamatan) yang berasal darinya, baik untuk saudaranya sesama muslim, maupun kepada musuh-musuhnya.

    Jika seorang muslim tak memiliki adab sopan santun kepada sesama muslim, dan saudara seagamanya tidak selamat dari makian dan gunjingannya, maka dapat dibayangkan bagaimana akhlaknya terhadap musuh.

    afwan jiddan...

    BalasHapus
  2. @riki: benar, rasulullah mempunyai akhlak yang sangat mulia. bahkan kita diperintahkan untuk menghormati tamu, baik tamu itu muslim maupun non-muslim, seperti dalam tulisan diatas. tapi, ada pengecualian untuk seorang tamu yang jelas-jelas permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin.
    para ulama telah memberikan penjelasan yang jelas dan gamblang dalam mengklasifikasikan orang kafir dan bagaimana sikap kita terhadap mereka.

    para ulama' mengkategorikan orang Kafir menjadi dua:
    1. Ahl al-harb (Kafir Harbi): Orang Kafir yang memerangi/terlibat peperangan dengan kaum Muslimin.
    2. Ahl al-Ahd (Kafir Ahdi): Orang Kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin. Terdiri dari:
    a). Ahludz Dzimmah adalah orang-orang yang mempunyai jaminan tetap. Karena mereka telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslim dengan syarat: hukum Allah dan Rasul-Nya diberlakukan kepada mereka. Itu karena mereka tinggal di wilayah yang menerapkan hukum Allah dan Rasul-Nya.
    b). Ahlul hudnah (mu’ahad) adalah mereka mengadakan perjanjian dengan kaum Muslim dengan syarat, mereka tetap tinggal di negeri mereka, baik dengan membayar harta atau tidak. Mereka juga tidak diberlakukan hukum Islam, seperti Ahli ad-Dzimmah, tapi mereka tidak akan memerangi kaum Muslim.
    c). Ahlul aman (Musta'min) adalah orang Kafir yang datang ke negeri kaum Muslim bukan untuk menetap di sana. Mereka bisa dipilah menjadi empat: Duta, pedagang, orang yang meminta perlindungan hingga bisa mendengarkan Islam dan al-Qur'an; jika mau, mereka bisa masuk Islam, dan jika tidak, mereka bisa pulang ke negeri mereka, juga orang yang mencari kebutuhan dengan berkunjung maupun yang lain. Hukum bagi mereka adalah, mereka tidak boleh diusir, dibunuh dan diambil jizyah. Kepada orang yang mencari perlindungan tersebut boleh disampaikan Islam dan al-Qur'an; jika dia masuk Islam, maka itu haknya, namun jika dia lebih suka kembali ke tempat asalnya, maka bisa dikembalikan ke sana. Dia tidak boleh diapa-apakan sebelum sampai ke sana. Jika dia sudah sampai di tempat asalnya, maka kembali lagi menjadi Kafir Harbi (musuh), seperti sedia kala.
    Hukum yang berlaku untuk Kafir Musta’min di atas, bagi Ibn al-Qayyim, dikecualikan dari hukum umum yang berlaku untuk Ahl al-Harb. Karena Musta’min adalah orang Kafir yang mendapatkan al-aman/visa, dan mereka dianggap sebagai bagian dari Ahl al-Ahdi, bukan Ahl al-Harb.
    Ini sama dengan pendapat Imam as-Syafi’i: Ahl al-Harb tidak boleh dibiarkan masuk negeri kaum Muslim sebagai pedagang. Jika mereka masuk tanpa jaminan keamanan (al-aman) dan risalah (sebagai duta), maka mereka bisa dirampas (hartanya). Jika mereka masuk dengan al-aman, dengan syarat membayar 1/10 lebih atau kurang dari harta mereka, maka boleh diambil. Jika masuk tanpa al-aman dan syarat, mereka harus dikembalikan ke negeri mereka. Dan tidak boleh dibiarkan melenggang di negeri kaum Muslim. (as-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hal. 244

    BalasHapus
  3. Alasan Diberikannya Jaminan al-Aman:
    1. Sebagai utusan/duta/konsul untuk menyampaikan risalah kepada kepala negara Islam; Bisnis atau berdagang; Mencari kebutuhan, seperti kunjungan sanak kerabat, dll.. Mempelajari Islam dan al-Qur’an. (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, juz II, hal. 873)
    2. Para fuqaha’ mensyaratkan, bahwa al-Aman tersebut bisa diberikan dengan syarat, tidak menimbulkan mudarat (bagi kepentingan Islam dan kaum Muslim). (Qawanin al-Ahkam as-Syar’iyyah, hal. 173)
    3. Meski individu/rakyat boleh memberikan jaminan al-aman, tetapi jaminan tersebut tetap harus diatur oleh negara, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan Islam dan kaum Muslim.
    4. Jika ternyata ada mudarat, maka negara (Khalifah) berhak membatalkan jaminan al-aman, dan mengembalikan penerimanya sebagai Ahl al-Harb. (Disarikan dari: Imam as-Sarakhsi, Syarah as-Siyar al-Kabir, juz II, hal. 580)
    Hubungan Dengan Negara Kafir Penjajah (Daulah Muharibah Fi’lan)
    •Jumhur fuqaha’ menyatakan, hukum asal hubungan Negara Islam dengan Negara Kafir –baik fi’lan maupun hukman– adalah hubungan perang.
    •Hubungan damai antara Negara Islam dengan Negara Kafir bisa terjadi karena: perdamaian, Negara Kafir menjadi Islam, atau tunduk kepada Negara Islam. (Ibn Qudamah,al-Mughni, juz X, hal. 387)

    AS dan Obama

    AS, termasuk Inggeris, dll. adalah negara Kafir Harbi Fi’lan, karena secara nyata memerangi negeri kaum Muslim, seperti Irak dan Afganistan, untuk dijajah.
    karena Negeri kaum Muslim adalah satu, dengan begitu hukum asal hubungan dengan AS, Inggeris, dll itu adalah hubungan perang, bukan hubungan damai. Konsekuensinya, tidak boleh ada hubungan diplomatik dengan negara-negara Kafir Harbi Fi’lan itu. Termasuk, tidak boleh ada konsul, duta dan perwakilan mereka di negeri kaum Muslim.
    Satu-satunya alasan Obama bisa diterima, jika datang untuk berdamai guna menghentikan perang, atau belajar Islam. Lalu, siapa yang mewakili umat Islam? Tidak ada.
    Mengizinkan Obama datang ke Indonesia bukan saja mendatangkan mudarat bagi Islam dan kaum Muslim, tetapi juga bagi Indonesia. Lebih dari itu, ini juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negeri-negeri kaum Muslim yang dijajah oleh AS, dkk.
    oleh karena itu, HARAM MEMBERIKAN IZIN (al-aman) dan MENERIMA KEDATANGAN OBAMA...
    Wallahu a’lam

    BalasHapus

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?