Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Sabtu, 11 Oktober 2008

Halal bi Halal Hindari Pamer Kemewahan dan Kesuksesan

Menghadiri acara halal bi halal atau reuni kadang bisa membuat seseorang minder, karena melihat ulah sebagian temannya yang terkesan sengaja pamer kesuksesan dan kemewahan.

Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita, biasanya pasca lebaran Idul Fitri marak digelar acara halal bi halal di lingkungan instansi atau kantor. Atau, bisa pula dalam bentuk reuni alumni sekolah/kuliah, sesama asal daerah, dan sebagainya.

Pada dasarnya halal bi halal dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim antar sesama, karena diyakini selain memperpanjang umur juga sebagai pembuka pintu rezeki. Namun, sayangnya makna halal bi halal kadang bergeser, ternodai hal-hal yang sifatnya sempit dan kesenangan semata.

Maka, tak heran jika halal bi halal maupun reuni kadang menjadi ajang pamer kesuksesan bagi sebagian mereka yang berhasil merintis karir di bidang bisnis, politik, maupun pemerintahan. Akibatnya, bagi teman-teman dia yang bernasib kurang beruntung timbul perasaan minder dan tidak nyaman.

Saking pamernya, sudah bicara sangat tinggi, pakaian parlente dengan aksesori mentereng, lalu sengaja pula menenteng handphone tipe berkelas. Sampai-sampai teman-teman yang belum beruntung minder mengangkat HP-nya ketika ada yang menghubungi, karena punyanya masih kelas ‘budak’.

Seperti dituturkan Rahim Audah, ia sudah beberapa tahun terakhir ini tidak mau lagi menghadiri acara hahal bi halal tertentu, karena kecenderungan suasananya terkesan pamer kesuksesan dan kemewahan.

Berkali-kali Audah menghadiri halal bi halal pasti ada aroma yang kurang enak bagi diri dan teman-temannya yang belum sukses dari segi finansial.

"Padahal kami dari rumah ingin menghadiri acara itu dengan niat silaturahim, tetapi sesampai di tempat acara pasti ada teman-teman yang mulai mengorek-ngorek kesuksesan. Tentu saja kuping saya tidak enak mendengarnya, apalagi saya membawa anak dan istri," jelas Audah.

Mestinya yang patut dibicarakan itu seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah, bukan bicara pamer kesuksesan dan kemewahan, kritik Audah.

Tapi kalau pada acara halal bi hal itu Audah diminta jadi penceramah, ia mau hadir karena itulah kesempatannya untuk memberikan pencerahan terhadap mereka yang pamer kemewahan tadi.

"Sampai sekarang saya masih enggan hadir di acara halal bi halal tertentu, meskipun saya sekarang sudah beda dengan dahulu," tegas Audah.



Perlakuan Khusus

Memang begitu terasa dan tampak menyolok mereka yang berhasil dalam dunia bisnis, politik atau pemerintahan mendapat perlakuan yang sangat istimewa di acara halal bi halal. Mereka diantar duduk di kursi paling depan, sementara bagi yang belum berhasil hanya diberi porsi duduk di barisan belakang alias dimarjinalkan oleh teman mereka sendiri.

Hubungan komunikasi juga sering berputar-putar antar sesama mereka yang sukses saja, sedangkan temannya yang kurang sukses terkesan dicueki. Andaikan disapa paling merespon sekadar pemanis belaka.

Paling menyakitkan lagi, pembicaraan bubuhan yang sukses tersebut terkadang terlalu tinggi memamerkan aset-aset kekayaan yang sudah mereka punyai. Tentu teman di sampingnya yang kebetulan tidak sukses merasa minder dan hanya menjadi pendengar belaka.

Hal ini pernah pula dirasakan oleh Juhaidi, ia sempat kesal dengan teman-teman di kampung halamannya yang menggelar acara halal bi halal, tetapi yang diundang hanya mereka lulusan universitas dari Pulau Jawa.

Mestinya, jelas PNS IAIN Antasari ini, halal bi halal itu jangan dimaknai secara sempit hingga menimbulkan ketidaknyamanan teman-teman lainnya.[]
Oleh: Ibrahim Ashabirin

ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 01.44 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?