Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Sabtu, 23 Agustus 2008

Mengenang 40 Tahun Pembakaran Al Aqsha


Tanggal 21 Agustus mengingatkan kaum muslimin akan peristiwa keji yang dilakukan oleh Yahudi radikal terhadap Masjid Al Aqsha yakni pembakaran masjid Al Aqsha . Hari itu, tepatnya tanggal 21 Agustus 1969, seorang Yahudi radikal asal Australia Michael Danis Rohen membakar masjid Al Aqsha. Api berkorbar hebat dan hampir melumat seluruh bangunan masjid Al Aqsha jika saja kaum muslimin dan nasrani pada saat itu tidak segera turun tangan memadamkan kobaran api, meskipun aparat keamanan Israel mengalang-halangi mereka memadamkan api.


Menurut para saksi mata, Polisi Israel pada saat itu sengaja mematikan aliran saluran pipa air di daerah Al Aqsha begitu api berkobar agar api dapat terus membakar seluruh bangunan masjid, dan bahkan polisi Israel melarang mobil pemadam kebakaran dan warga Arab untuk memasuki area masjid. Kebakaran itu merupakan yang terparah dalam sejarah ancaman terhadap Al Aqsha. Aksi biadab itu telah menyebabkan Mimbar Salahuddin yang bersejarah hangus terbakar, atap masjid bagian selatan juga terkena api serta bangunan masjid berubah hitam akibat asap.

Pemerintah Israel pada saat itu mengklaim, kebakaran Al Aqsha akibat konsleting listrik. Namun para pengamat pada saat itu berhasil memberikan bukti-bukti yang menunjukan bahwa kebakaran itu merupakan perbuatan seseorang yang sengaja melempar api. Akhirnya, Danis Rohen sendiri dalam pengakuannya mengatakan mengakui telah membakar Masjid Al Aqsha karena diutus Al Masih untuk menghilangkan Al Aqsha untuk kemudian didirikan Haekal Sulaiman. Ironisnya, Mahkamah Israel dalam putusannya menghukum rohen sebagai orang yang tidak berakal dan hanya mendeportasinya ke Australia.

Pembakaran Masjid Al Aqsha membuat pedih dunia Islam yang dampaknya masih terus dirasakan hingga saat ini, ditengah-tengah penggalian tanah di sekitar Al Aqsha yang terus menerus dilakukan oleh Lembaga Peninggalan Sejarah Israel untuk menemukan apa yang mereka klaim sebagai “ Haikal Sulaiman”.

Pembakaran Al Aqsha telah mengundang aksi protes dari dunia Islam. Aksi demo kemarahan umat Islam terjadi di Indonesia hingga Maroko. Aksi demo selama 3 hari berturut melanda hampir seluruh pelosok negeri muslim.

Berbagai pertemuan regional dan internasional diselenggarakan dalam rangka menghentikan kemarahan umat Islam. DK PBB terpaksa mengadakan sidang darurat dan mengeluarkann Resolusinya Nomor 271 yang mengutuk Israel dan menyerukan Israel agar menghentikan segala upaya yang bertujuan untuk merubah status Kota Jerusalem dan yahudisasi masjid Al Aqsha.

Para pemimpin Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) pun tidak tinggal diam. Mereka mengadakan pertemuan darurat di Rabat, Ibukota Maroko. KTT OKI Darurat itu menghasilkan sejumlah keputusan yang akan mencegah setiap upaya untuk menodai Masjid Al Aqsha. Tapi keputusan-keputusan itu tidak bisa diimplementasikan.

Meskipun DK PBB dan OKI pada saat itu sepakat untuk memberi perlidungan bagi keutuhan Masjid Al Aqsha dari aksi-aksi pemberangusan, tapi pembakaran Al Aqsha tahun 1969 bukan yang terakhir, setelah tahun itu aksi-aksi penodaan terhadap Al Aqsha semakin marak. Dan terbukti DK PBB dan OKI gagal menjamin keselamatan Al Aqsha.

Pada 27 Januari 1982, sekelompok Yahudi Radikal berupaya masuk ke Masjid Al Aqsha untuk membakarnya namun berhasil digagalkan. Pada 14 Januari 1989, sejumlah anggota Knesset Israel masuk ke Masjid Al Aqsha dengan pengawalan keamaan Israel dan didalamya mereka membaca kitab-kitab suci agama Yahudi.

Kemudian pada September 2000, Mantan PM Israel Ariel Sharon, dengan pengawalan sangat besar dari militer Israel melakukan kunjungan ke Masjid Al Aqsha dan masuk ke dalam masjid itu. Kunjungan Ariel Sharon itu telah memicu meletusnya Intifadah Palestina kedua.

Pada bulan Juli 2007, sumber-sumber media Israel mengatakan bahwa polisi Israel sangat mengkhawatirkan aksi serangan yang akan dilancarkan oleh sekelompok Yahudi Radikal terhadap Al Aqsha. Aksi serangan itu akan menggunakan pesawat tanpa pilot yang diisi dengan bom dan ditabrakan ke Masjid Al Aqsha saat waktu sholat.

Dan saat ini setelah 40 tahun pembakaran Masjid Al Aqsha, masih ada ratusan anggota kelompok-kelompok Yahudi radikal yang terus menanti kelalaian umat islam untuk merobohkan Masjid Al Aqsha. [syarif/dari berbagai sumber/www.suara-islam.com]


ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 03.17 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?