Masjid Abdurrahman Isma'il,
Komplek Kampus IAIN Antasari,
Jl. A. Yani KM. 4,5 Banjarmasin, Kalsel
Phone: +6289691780577 (Ikhwan) /
+6285651xxxxxx (Akhwat)
E-Mail: ldk_amal@yahoo.co.id

Masukan Email Anda untuk Berlanggan

Rabu, 06 Agustus 2008

Saatnya Ulama Memimpin Perubahan

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 47, Tanggal 4 - 17 Juli 2008 M/1 - 14 Rajab 1429 H

Ulama tak bisa lagi hanya sekadar mengimbau. Ulama harus berada di depan dalam rangka melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar.

Pondok Pesantren Darunnajah di Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (25/6) berbeda dari biasanya. Di sela-sela kegiatan para santri muncul wajah-wajah baru. Mereka adalah para ulama, habaib, dan tokoh umat Islam yang datang dari seluruh Indonesia. Ada utusan dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Madura, Nusa Tenggara, hingga Papua. Sekitar 200 orang itu berkumpul dalam rangka 'Pertemuan Besar Ulama, Habaib, dan Tokoh se-Indonesia' yang diseleng-garakan oleh Forum Umat Islam (FUI) 25-26 Juni 2008 lalu.



Tak ada penyambutan khusus bagi para ulama, habaib, dan tokoh masya-rakat. Mereka datang dengan kesahaja-annya. Ada yang menumpang bis umum dari Madura. Ada yang naik kereta api. Ada juga yang datang menggunakan pesawat dan kemudian disambung dengan angkutan umum. Mereka yang tinggal di sekitar Jakarta datang dengan kendaraan pribadi secara berombongan.

Sekitar 200 ulama, habaib, dan tokoh umat ini pun harus rela menginap dalam suasana pesantren. Mereka menempati bangsal santri di Gedung Indonesia Baru. Tiap kamar dihuni lima orang. Tidak ada fasilitas AC atau kasur pegas. Ranjangnya pun ranjang besi susun dengan ukuran lebar 1 meter. Ranjang bagian atas tidak digunakan. Itu pun tidak semua ulama, habaib, dan tokoh kebagian tempat tidur (ranjang) karena jumlah ranjang yang berkasur hanya 80 buah. Terpaksa mereka harus rela tidur di atas karpet seperti halnya jamaah haji yang ada di pemondokan di Mekkah. Namun itu tidak menjadi masalah.

Semangat perjuangan mereka mampu menepis kendala fisik yang ada. Apalagi hampir sepanjang pertemuan hadir to-koh-tokoh yang mampu memicu motivasi perjuangan para ulama, habaib, dan tokoh umat Islam. Ketua Majelis Ulama Indo-nesia KH Ma'ruf Amin, yang menjadi keynote speaker (pembicara kunci) mengajak para ulama untuk bersatu dalam rangka menegakkan kembali dinullah. ''Kita harus menyatukan per-sepsi (pemikiran), merapatkan barisan, dan menyatukan gerak. Ini penting agar sesama Muslim tidak saling menjegal dan saling membunuh antara satu dan yang lain,'' katanya.

KH Ma'ruf mengingatkan kembali fungsi ulama. Menurutnya, ulama ber-fungsi untuk menjaga umat (khimayatul ummah) dan memperbaiki umat (islahul ummah). Kedua fungsi ini harus berjalan berbarengan. Fungsi pertama meliputi menjaga umat dari aqidah yang rusak (khimayatul ummah anil aqidah fasidah), akhlak yang buruk (akhlakil syayi'ah), dan dari pemikiran yang batil (afkaril bathilah). Karena itu ulama harus tampil di depan dalam menjaga umatnya.

Ulama, kata KH Ma'ruf, harus ber-usaha keras mewujudkan khairu ummah (umat terbaik), bukan sekadar umat khairiyah (umat yang baik secara indi-vidu). Khairu ummah tidak sekadar individu-individunya baik tapi mereka adalah umat yang mampu dan punya kekuatan dan kehebatan, wibawa, serta mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. ''Umat sekarang baru pada taraf mengimbau. Ini belum kepada khairu umat,'' katanya.

Karena itu, lanjut Ketua Komisi Fatwa MUI ini, ulama harus menyiapkan orang-orang yang taat agama (tafakuh fiddin). Ini mutlak diperlukan sebab sekarang banyak santri bahkan kiai yang kesu-rupan. Yang dimaksud kesurupan, kata kyai asal Banten ini, adalah kyai tapi cara berpikirnya tidak seperti kyai, artinya mengikuti cara berpikir asing. ''Kita harus berjuang agar bagaimana Islam ini men-jadi dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini adalah masalah besar para ulama,'' tandasnya.

Sebelumnya, Ketua SC acara yang juga Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath menjelaskan, munculnya insiden Monas sebagai salah satu bentuk pertarungan antara Islam dan sekulerisme yang telah berlangsung sejak lama. Kaum liberal menginginkan Indonesia berubah men-jadi liberal dalam seluruh sektor kehi-dupan baik itu agama, politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial-budaya.

Beberapa peristiwa menunjukkan be-tapa kaum liberal menggiring Indonesia ke jurang kebebasan seperti diinginkan oleh Barat. Mereka dengan gigih men-dukung Ahmadiyah yang jelas-jelas sesat menurut pandangan Islam. Kaum liberal juga menghadang lahirnya UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) sehingga sampai detik ini RUU tersebut masih ngendon di DPR. Sebagian mereka yang kini namanya tercantum sebagai anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tercatat sebagai tokoh-tokoh yang men-dukung kenaikan harga minyak tahun 2005 sebesar lebih dari 125 persen. Mereka ini juga menentang fatwa MUI tentang keharaman sekulerisme, plural-isme, dan liberalisme. Bahkan dengan beraninya mereka mengatakan MUI tolol dan sesat.

Al Khaththath mengingatkan, kaum liberal mendapat dukungan dari pihak asing baik dana maupun materi lainnya. Barat ingin 'menjinakkan' dan melemah-kan Islam di Indonesia. Malah kalau bisa, mereka ingin mengubah Islam agar sesuai dengan apa yang dikehendaki Barat. ''Ini seharusnya semakin menyadarkan umat Islam betapa semakin lama mereka bisa semakin kuat jika dibiarkan,'' katanya.

Untuk itu, lanjutnya, satu hal yang bisa menangkal makar kaum liberal dengan dukungan asing itu adalah persatuan umat. Umat Islam tidak hanya dituntut bersatu memegang teguh agama Allah, tetapi juga bersatu dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Para ulama, habaib, dan tokoh umat memiliki peran strategis dalam hal ini.


Dari PLN hingga Namru-2

Pertemuan para ulama, habaib, dan tokoh umat ini memang terasa beda dengan pertemuan ulama pada umum-nya. Mereka tidak hanya membahas masalah keagamaan dalam arti ritual semata. Lebih dari itu, pertemuan ini membahas isu-isu aktual yang ber-kembang di Tanah Air.

Dari PLN hadir Ketua Umum Serikat Pekerja PLN Ahmad Daryoko. Ia menje-laskan rencana pemerintah memecah (unbundling) perusahaan listik negara ini. Kebijakan itu akan merugikan rakyat sebab harga listrik akan ditentukan oleh swasta dan keuntungannya pun tidak lagi ke negara. Pemecahan PLN ini, katanya, merupakan wujud dari ketundukan pemerintah kepada IMF yakni liberalisasi sektor energi. Beberapa perusahaan besar asing sudah ngantri untuk bisa membeli bagian-bagian dari PLN yang akan dilepas karena mereka tahu bahwa bisnis ini sangat menguntungkan.

Senada dengan Daryoko, Abdullah Sodik dari Pertamina mengemukakan, sektor migas telah mengalami proses liberalisasi secara struktural. Ini akibat lahirnya UU Migas tahun 2001. Undang-undang itu sengaja untuk memberi kesempatan kepada pihak asing untuk mengelola migas Indonesia. ''UU Migas itulah sumber dari liberalisasi migas di Indonesia,'' katanya. Karena itu, menu-rutnya, jika Indonesia ingin melepaskan diri dari belenggu asing maka satu-satunya jalan adalah mengubah undang-undang yang ada.

Munculnya proses liberalisasi ini tidak lepas dari perang ideologi. Pengamat ekonomi dari Tim Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy, menjelaskan, pijak-an perubahan ekonomi Indonesia ber-sandar pada Washington Consensus. Konsensus ini mengharuskan suatu negara melakukan proses privatisasi, pen-cabutan subsidi, dan liberalisasi pasar. Dari kacamata ini, kenaikan harga BBM bisa dilihat sebagai upaya penguasa memberi kesempatan kepada para peng-usaha asing untuk ikut andil dalam pasar energi di Indonesia. ''Jadi kenaikan harga BBM misalnya, bukan soal supply and demand, tapi ini adalah ideologi neo-liberal,'' tandasnya.

Pakar ekonomi lainnya Hendri Sapa-rini, menjelaskan munculnya UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konsitusi tidak lepas dari skenario asing agar Indonesia menjadi liberal. Dengan libera-lisasi ekonomi ini, Amerika bisa lebih leluasa lagi mengeruk keuntungan dari sumber daya alam Indonesia sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial.

Perbincangan yang cukup hangat dihadirkan oleh budayawan Taufik Isma-il. Menurutnya, saat ini ada gerakan syahwat merdeka (GSM). Mereka ber-usaha menghapus rasa malu generasi muda Indonesia. Ada 10 komponen gerakan ini yakni praktisi sehari-hari seks bebas hetero dan homo; penerbit tabloid dan majalah mesum; produser, penulis skrip, dan pengiklan acara televisi syah-wat; 4,2 juta situs porno dunia dan 100 ribu situs porno Indonesia; produsen dan pengecer DVD/VCD biru; penerbit dan pengedar komik cabul bagi anak-anak sekolah; penulis, penerbit, dan pro-pagandais buku syahwat sastra; pabrikan, distributor, pengecer, pengiklan, dan pengisap nikotin; pabrikan, distributor, pengecer, pengiklan, dan pengisap alkohol; dan produser, pengedar, dan pengguna narkoba. Mereka bekerja secara sistematis. Dampaknya antara lain neo-liberalisme pemikiran, intervensi asing, budaya kekerasan, korupsi, dan kebejatan moral. Karena itu seluruh komponen bangsa harus berusaha menghadang gerakan syahwat merdeka tersebut.

Tak kalah serunya yakni pembahasan Ahmadiyah. Hadir pakar Ahmadiyah Amin Jamaludin dari Lembaga Peng-kajian dan Pengembangan Islam (LPPI). Kepada para ulama, Amin mengungkap kembali bukti-bukti bahwa Ahmadiyah itu sesat dan menyesatkan. Ia membaca-kan satu persatu bukti kesesatan itu langsung dari buku-buku Ahmadiyah yang dibawanya.

Diskusi makin panas ketika Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari mengupas masalah Namru-2 yakni laboratorium tentara Amerika Serikat yang berada di Jl Percetakan Negara Jakarta Pusat. Menkes menegaskan, Namru-2 tidak ada gunanya di Indonesia. Karena itu laboratorium itu harus ditutup. Sayangnya, niat Menkes itu belum kesampaian. Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri yang semula berpendapat sama, mulai goyah pen-diriannya.

Joserizal Jurnalis, presidium Mer-C yang mendampingi Menkes mengungkap bahaya Namru bagi Indonesia. Labora-torium Namru, menurutnya, bisa menjadi pusat senjata biologi AS di Indonesia. Bahkan Jose berani menyatakan bahwa Namru adalah pangkalan militer Amerika di Jakarta. Ia mencontohkan, jika mereka mau melumpuhkan Indonesia bukan hal yang sulit. ''Tinggal masukkan saja kuman polio ke air PAM, maka semua akan lumpuh,'' katanya. Ia juga menjelaskan, senjata biologi lebih berbahaya daripada bom nuklir. Ia menyertakan bukti-bukti bagaimana kuman dan virus bisa disebar-kan lewat udara melalui pesawat udara dan sasarannya etnis tertentu.

Mendengar penjelasan Menkes dan Joserizal, para ulama menyatakan men-dukung sepenuhnya keputusan Menteri untuk menutup laboratorium Namru-2. Mereka heran mengapa pemerintah yang kebanyakan laki-laki tak seberani Menkes yang perempuan. Menkes pun terharu mendengar pernyataan para ulama ter-sebut.

Diskusi yang berlangsung empat sesi ini juga menghadirkan tokoh pers senior Amran Nasution. Mantan wartawan Tem-po ini mengupas betapa jahatnya pers Barat terhadap Islam. Menurutnya, Islam kini menjadi sasaran war on teror. Di balik itu semua adalah gerakan orang-orang Yahudi yang berkolaborasi dengan kapitalis internasional. Ia mengingatkan bahwa Bush pernah menyatakan perang salib terhadap Islam beberapa saat setelah runtuhnya WTC tahun 2001. Pernyataan itu tidak pernah dicabut hingga kini. Malah ucapan itu terbukti dengan penye-rangan atas Afganistan dan Irak.

Ahmad Sumargono, salah satu pem-bicara menyatakan sudah saatnya Indo-nesia ganti sistem. Pergantian orang yang berlangsung berkali-kali ternyata tidak membuahkan hasil. Justru Indonesia kian terpuruk. ''Kini saatnya mengganti sistem yang sudah rusak ini dengan sistem yang baru yang mendapatkan ridla dari Allah,'' katanya menegaskan.


Deklarasi Darunnajah

Hasil paling penting dari pertemuan para ulama, habaib, dan tokoh umat ini adalah lahirnya 'Deklarasi Darunnajah' tentang Dewan Kesatuan Ulama (Haiah Ittihadul al Ulama') Forum Umat Islam (DKU FUI). Dewan ini dibentuk untuk mewujudkan aliansi sinergis antar ber-bagai komponen umat.

Deklarasi tentang Dewan Kesatuan Ulama FUI itu dibacakan oleh ketua Umum DPP Al Ittihadiyah sekaligus ketua MUI, Brigjen (Purn) KH Nazri Adlani. Turut mendampinginya Habib Salim bin Umar al Athas (Panglima Laskar Aswaja), KH Muhamad Ma'mun (Pimpinan Pon-pes Darul Falah Banten), KH Abdul Hamid Baidhowi (Kyai Sepuh NU Lasem-Rembang), H Ismail Yusanto (Jubir HTI), KH Nairurrahman (Madura, Jawa Ti-mur), Habib Muhamad bin Ali Abdurah-man Assegaf (Majelis Kehormatan Ulama Indonesia, Jakarta), H Irfianda Abidin (Ketua KPPSI Sumatera Barat), KH Shihabudin (Lampung), KH Muhamad Soleh (Lombok NTB), KH Abu Bakar (Fakfak, Papua), Habib Ali Bin Hasan Abu Bakar (Jakarta), Sayidi Abdullah (NTT), H Aswar Hasan (KPPSI Sulsel), KH Zarkasih (Kalimantan Selatan), KH Badruddin Subqy (BKSPPI), Ahmad Husein (Jatim), dan KH Ulum Burha-nudin (Ketua Korp Mubaligh Jakarta)

Selain mendeklarasikan terbentuknya DKU, pertemuan ini mengeluarkan bebe-rapa rekomendasi yang ditujukan kepada ulama/habaib/tokoh umat, masyarakat, pemerintah, dan DPR. Para ulama harus menjadi kelompok terdepan dalam pem-binaan keluarga dan masyarakat untuk mendakwahkan Islam secara kaffah dan amar ma'ruf nahi munkar menuju perubahan bagi tegaknya syariat Islam dan kesatuan umat Islam, serta dengan istiqomah menjaga dan membela Islam beserta para pejuangnya dalam meng-hadapi musuh-musuh Islam.

Para ulama meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah dengan Kepu-tusan Presiden (Keppres). Selain itu mereka menuntut pemerintah berpihak kepada rakyat yakni dengan menutup laboratorium Namru-2, menurunkan har-ga BBM, dan menasionalisasi aset negara yang jatuh ke tangan asing.


Menjenguk Mujahid

Jumat (27/6) para peserta Pertemuan Besar Ulama, Habaib, dan Tokoh Umat se-Indonesia membezuk mujahid dakwah Habib Rizieq Shihab dan Munarman di tahanan Polda Metro Jaya. Secara ber-giliran para ulama masuk ke ruang tahanan. Rona persaudaraan sesama Muslim terlihat begitu kental. Air mata sebagian ulama menetes. Doa pun dikumandangkan untuk kemenangan Islam.

“Kita semua para ulama dari seluruh Indonesia meminta agar beliau tetap sabar dalam menghadapi ujian ini,” ujar Pimpinan Pesantren Darunnajah KH Ma'rus Amin kepada Suara Islam. Ia menambahkan agar seluruh ulama yang ada di Indonesia merapatkan barisan dan bersatu untuk melanjutkan perjuangan menegakkan Syariat Islam dan meng-hancurkan kedzaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka ter-hadap Islam.

Munarman sempat menuliskan surat yang ditujukan kepada para ulama. Bunyinya: “Bismillahirrohmanirrohim. Demi Allah. Saya meminta kepada ikhwan rohimakumullah untuk terus berjuang menegakkan syariat Islam di muka bumi. Allahu Akbar 3x !!!” Sedangkan, Habib Rizieq berpesan melalui Ma'rus agar seluruh ulama istiqomah dalam per-juangan menegakkan agama Allah di muka bumi. [mujiyanto/www.suara-islam.com]



ads

Ditulis Oleh : LDK AMAL Hari: 06.58 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bagaimana tampilan Web kami menurut Anda?